![]() |
| Sumber: wisatadanbudaya.magetan.go.id |
Telaga Sarangan, tempat wisata yang sudah tidak asing di telingaku, tetapi belum pernah sekalipun mengunjunginya. Namun, hari ini akhirnya Allah beri rezeki untuk menikmati hawa dingin di Telaga Sarangan.
Tempat wisata ini terletak di Kabupaten Magetan sehingga butuh waktu kurang lebih selama 5 jam perjalanan dari Kota Blitar. Kami berangkat pukul 03.30 dini hari menggunakan mobil pribadi lewat jalur selatan.
Berangkat sebelum subuh, membuat kami harus mampir ke masjid untuk menunaikan salat subuh di Kabupaten Trenggalek tepat ketika jam menunjukkan angka pukul 05.00. Setelah sekitar 30 menit, kamipun melanjutkan perjalanan kembali.
Sepanjang perjalanan, mobil melaju tidak terlalu cepat, tetapi juga tidak lambat. Melewati jalanan yang belum terlalu ramai karena masih pagi, melewati beberapa perbatasan kabupaten, jalanan yang berkelok, dan tanjakan yang tidak terlalu banyak. Sekitar pukul 09.00 kami sampai di Telaga Sarangan yang ternyata sudah lumayan ramai pengunjung.
Sampai di gerbang masuk, kami disambut oleh petugas yang berjaga di loket pembelian tiket. Terpampang list harga tiket masuk untuk dewasa sebesar Rp 20.000 dan anak-anak sebesar Rp 10.000 sudah beserta pajaknya Rp 1000.
Setelah membayar tiket, mobil diizinkan untuk masuk dan mencari tempat parkir tentunya. Nah, dari sinilah perjuangan dimulai. Kami harus berjalan lumayan panjang untuk mencapai lokasi Telaga berada. Tidak hanya panjang, jalannya pun sedikit menanjak. Jadi, bisa dipertimbangkan kalau mengajak lansia ke sana.
Disepanjang perjalanan kami disambut oleh deretan penjual sayur yang warnanya sangat menggoda mata. Ada sayur brokoli, kembang kol, tomat, sawi, dan kawan-kawannya. Kalau ada sayur, sudah pasti ada jajaran bumbu-bumbu yang ditawarkan juga. Wah, sungguh menggoda, bahkan lebih menggoda ketimbang deretan snack yang dipamerkan oleh para penjual yang kami temukan ketika sudah semakin mendekati lokasi telaga.
Tidak hanya ada yang menggoda mata, ada pula yang menggoda hidung disepanjang jalan. Hayo, apa kira-kira?
Bau kotoran kuda yang lalu lalang disewakan kepada para pengunjung. Hmmm … sungguh sensasi yang tak terduga sebelumnya walaupun tidak parah, sih baunya.
Nah, untuk menyewa kuda kita harus mengeluarkan uang sebesar Rp 80.000. Mahal, ya? Aku rasa tidak juga kalau melihat seberapa panjang rute perjalanannya. Apalagi pendampingnya juga ikut jalan memutari telaga. Wah, betapa kuat kaki bapak-bapak itu.
Lalu, apalagi yang bisa dinikmati di sana?
Selain air telaga dan kuda, kita bisa menyewa speed boat ataupun perahu bebek, loh. Tarif speed boat lumayan, sih menurutku. Sekali putaran tarifnya Rp 80.000, dua kali putaran harus menyiapkan Rp 150.000, dan kalau tiga kali putaran harus mengeluarkan Rp 200. 000.
Untuk perahu bebek, tidak terlalu menguras kantong sebenarnya. Hanya dengan Rp 50.000 sudah bisa menaikinya. Perahu bebek ini sangat cocok bagi pengunjung yang tidak bernyali dibawa kebut-kebutan. Kalau yang punya nyali besar bisa dicoba menyewa speed boat saja. Uji nyali sambil meluapkan emosi karena bisa sambil teriak-teriak ketika dibawa ngebut oleh sopirnya.
Selama di sana ada satu kuliner yang menjadi perhatian utamaku, yaitu sate kelinci. Hampir setiap satu meter ada penjual sate kelinci dan ayam, mulai dari yang masih muda, bapak-bapak, hingga ibu-ibu. Harga per 12 tusuk untuk sate kelinci adalah Rp 15.000, kalau tambah dengan lontong menjadi Rp 20.000 jika tidak salah dengar.
Sebenarnya penasaran dengan rasa sate kelinci, tetapi aku tidak berani membelinya karena teringat dengan imutnya si kelinci ketika masih hidup. Huhh … jadilah penasaran ini kubawa pulang saja.
Tidak dapat sate kelinci, strawberry pun jadi. Ya, setelah menimbang-nimbang untuk membeli sate kelinci dan berakhir tetap tidak tega. Akhirnya aku memilih untuk membeli strawberry yang ukurannya lumayan besar karena tidak pernah kutemui di Blitar. Awalnya dibanderol dengan harga Rp 25.000 per 250 gram. Namun, setelah tawar menawar yang tidak alot oleh penjual diberikan sedikit potongan menjadi Rp 65.000 mendapat 3 pak dengan berat masing-masing 250 gram. Alhamdulillah, ya rezeki.
Kalau diingat-ingat dan dibandingkan, harga makanan dan jajanan di sana sebenarnya tidak jauh berbeda dengan di Blitar. Mungkin hanya terpaut sekitar Rp 2000 saja. Tidak terlalu mahal bukan?
Semoga bisa menjadi rekomendasi tempat berlibur bersama keluarga di saat masih masa-masa liburan sekolah ini. Tidak perlu bingung mencari tempat menginap kalau ke sana. Di sepanjang jalan menuju telaga banyak berjajar hotel dan villa yang bisa disewa. Tinggal mencari tahu harganya saja karena aku tidak menginap di sana, jadi tidak bisa memberikan informasi tentang penginapan.
Semoga bermanfaat buat kalian yang sedang mencari tempat berlibur.
.jpeg)











