“Sekolah tinggi-tinggi jadi sarjana, ujungnya cuma di rumah momong anak. Apa nggak rugi orang tuanya ngeluarin duit banyak?” Suara Bu Atin memang pelan dan lembut ketika menyampaikan pendapatnya di depan ibu-ibu lain saat sedang belanja di warung. Namun, ditelingaku tetap saja mampu meninggalkan goresan yang dalam sehingga terasa sekali nyerinya. Kalimat-kalimat serupa sebenarnya sudah sering kudengar dari mereka yang hobi berkumpul di warung. Awalnya kuabaikan saja, tetapi pada akhirnya berhasil mengusik pikiran selama beberapa pekan ini.
Malam ini, kuberanikan diri menyampaikan ide yang sebenarnya adalah mimpi besarku sejak masih berseragam putih abu-abu dulu. Di atas kasur yang berukuran besar, aku bergeser ke samping Mas Danu ketika anak-anak sudah terlelap. Dalam dekapan suami yang tidak banyak menuntut ini, kusampaikan keinginanku yang sudah terpendam selama bertahun-tahun.
“Mas, boleh nggak aku buka pesanan kue online dan buka toko kue di rumah? Aku tetap bisa jagain anak-anak, kan kalau kerja di rumah,” tanyaku pelan.
Mas Danu tidak lantas menjawab. Dia diam sambil terus mengelus rambutku. Mungkin sedang menimbang-nimbang segala sesuatunya, terutama urusan anak-anak. Helaan napas panjangnya kudengar jelas karena kepalaku sedang bersandar di dadanya.
“Kenapa tiba-tiba punya ide begitu? Nggak jadi nunggu anak-anak sekolah dulu?” tanyanya dengan suara yang lembut.
Aku diam. Hanya memainkan jariku di dadanya. Bingung harus menjawab bagaimana. Kalau jujur kusampaikan alasanku, mungkin dia tidak akan izinkan karena dia bukan orang yang gampang memedulikan komentar orang lain.
“Lah, kok diam?” tanyanya penasaran.
Aku mengubah posisi berbaring menjadi duduk menghadap Mas Danu. Dia tampak tersenyum melihatku yang duduk tegak di sampingnya pertanda aku ingin menyampaikan sesuatu yang serius. Lalu, dia pun ikut duduk menghadapku.
“Punya usaha kue itu mimpi besarku sejak SMA, Mas. Lulus kuliah langsung kamu ajak nikah, terus hamil dua anak, ngurusin mereka. Rasanya mimpiku sudah terlalu lama dimasukin goa, deh,” keluhku.
Mas Danu tersenyum manis sekali menanggapi alasanku. Kini duduknya sudah bergeser di sebelah kiri, lalu tangannya dilingkarkan ke badanku yang mungil ini.
“Iya, aku tahu cita-citamu. Sudah dipikirkan matang-matang? Boleh saja asalkan kamu bisa bagi waktu dengan baik. Anak-anak dan suamimu ini nggak ditelantarin aja, Sayang,” jawabnya yang membuat hatiku dipenuhi bunga warna warni yang bermekaran.
Kupeluk dengan erat Mas Danu sambil berbisik di telinganya kuucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya sudah memberiku ruang mewujudkan cita-citaku.
***
Disela-sela waktu mengurus suami, anak dan rumah, aku mempelajari bagaimana para penjual kue itu menjajakan dagangannya di media sosial. Suami pun turut memberikan informasi jajanan apa saja yang sedang digandrungi banyak orang saat ini.
Setelah satu minggu belajar sendiri, kuberanikan diri membuat beberapa jenis kue ketika anak-anak sedang asyik bermain. Lalu, memotretnya sebagai bahan iklan di media-media sosial nantinya. Setelah foto sedikit diperbaiki agar lebih menarik, aku sebenarnya tak sabar untuk mencoba mengiklankannya. Namun, belum saatnya. Aku hanya membuat kue sedikit untuk bahan pemotretan saja dan setelah itu menjadi cemilan untuk anak-anak dan suami.
Tiba-tiba terlintas nama untuk tokoku ini. "Ceu Ria Bakery" punya dua makna, yaitu toko bakery punya Ceu Ria dan juga berarti toko bakery yang selalu membuat pelanggannya ceria. Hmm ... bagus juga.
Dua hari kemudian aku membuat beberapa jenis kue yang sedang viral sembari mengasuh dua anak yang sedikit-sedikit memanggilku karena butuh bantuan. Lalu kuberanikan diri untuk mengirim foto iklan yang sudah kusiapkan kemarin ke grup chat teman-teman SMA dan juga grup chat warga satu RT. Respon yang membuatku tidak berhenti tersenyum adalah dari teman-teman SMA karena mereka sudah pernah merasakan hasil karyaku dulu ketika kami mengadakan reuni.
Hari pertama, paling banyak pesanan masuk dari teman-teman SMA yang meminta diantar ke tempat kerjanya dan yang dekat dari rumah, minta diantar ke rumah saja. Terpaksa aku meminjam motor bapak untuk mengantar sambil mengajak anak-anak karena Mas Danu masih berada di toko. Sampai menjelang magrib, masih ada beberapa kue yang belum bertuan, jadi menjadi cemilan malam ini untuk kami sekeluarga.
“Nggak apa-apa namanya juga masih hari pertama jualan. Aku dan anak-anak dengan senang hati akan menghabiskan sisanya. Semoga besok-besok ludes terjual semua tanpa sisa, ya, Sayang,” ujar Mas Danu yang mendengar laporan penjualanku hari ini.
Mas Danu benar-benar menjadi pendukung utamaku. Dia mau bangun lebih pagi bersamaku lalu membantu menyiapkan alat dan bahan untuk memproduksi kue. Sebelum pergi kerja pun dia selalu membantu mengurus anak-anak, sedangkan aku sudah sibuk berkutat di dapur untuk memasak dan juga mulai memproduksi kue.
Ketika urusan dengan anak-anak selesai, barulah Mas Danu berangkat kerja. Sedangkan aku mulai membungkus sebagian kue yang sudah matang sembari tetap mengasuh duo balita yang juga sibuk ingin membantuku. Kadang niat baik mereka kusambut dengan bahagia, tetapi bisa juga malah mengundang emosi saja kalau sudah terjadi pertengkaran karena berebut.
Semakin lama, toko kue di rumah semakin dikenal banyak orang. Tidak hanya orang sekampung, melainkan orang dari kampung sebelah dan juga orang-orang kantoran yang mendapat rekomendasi dari teman-teman SMAku. Bahkan ada seorang istri pejabat daerah yang menyatakan ingin berlangganan dengan tokoku sewaktu-waktu ada acara.
Bahagia memenuhi hatiku karena merasa berhasil mewujudkan mimpi yang sudah lama hanya menjadi angan-angan. Namun, ketika malam tiba, aku sering merasa bersalah kepada anak-anak dan suami karena waktu untuk mereka berkurang drastis. Apalagi kepada anak-anak, sering sekali mereka menjadi sasaran kemarahanku kalau mereka ngeyel membantu, tetapi faktanya malah kadang mengacak-acak bahan kue atau merusak kue yang sudah siap dibungkus.
“Semua butuh pengorbanan, Sayang. Sekarang kamu sudah tahu apa yang harus kamu korbankan untuk menggapai mimpimu. Tinggal evaluasi saja apa yang harus diperbaiki agar semua bisa berjalan dengan baik,” nasihat Mas Danu ketika kuungkap kegelisahan yang terpendam beberapa hari ini.
“Apa aku tutup aja tokonya untuk sementara, ya, Mas? Tahun depan dibuka lagi. Kan si Kakak udah masuk sekolah tahun depan,” sahutku mengutarakan ide yang sudah kupikirkan masak-masak.
“Tidak perlu mundur setelah kamu maju seribu langkah. Kita cari solusi untuk memperbaiki yang masih kurang baik, ya,” tutur Mas Danu.
Lagi-lagi suamiku menunjukkan kebijaksanaannya dalam menyikapi kelabilanku. Tidak tampak kemarahan sedikitpun dari sorot mata dan intonasi bicaranya. Tidak pula ada kalimat menyalahkan selama waktu dan perhatianku untuknya dan anak-anak berkurang. Justru orang tuaku yang pernah memprotes kalau aku terlalu sibuk bekerja sampai anak-anak seperti ditelantarkan.
“Mas, apa anak-anak dititipkan saja? Di lingkungan sini ada Bu Tatik, Mbak Tika, dan Mak Yem yang biasa momong anak kecil.” Tiba-tiba terlintas ide di kepalaku, lalu terlintas nama-nama itu untuk menjadi kandidat pengasuh dua balitaku.
Mas Danu tampak mengernyit mendengar ide dadakan dariku. Dia diam sejenak untuk berpikir mungkin.
“Mak Yem? yakin mau dikasih dia anak-anak? Suami dan anak-anaknya Mak Yem itu perokok, lho. Aku khawatir sama kesehatan anak-anak, deh, Yang,” ungkapnya setelah beberapa detik berpikir.
Ah, iya juga pikirku. Risiko perokok pasif malah lebih berat dibandingkan perokok aktif. Jadi, kandidatnya hanya tinggal dua orang sekarang.
“Gimana kalau Mbak Tika aja, Mas? Dia masih muda dan kayaknya juga telaten ngajari anak-anak. Semoga dia nggak lagi ada momongan,” celetukku setelah berpikir singkat siapa yang paling baik untuk mengasuh anak-anak.
Mas Danu tersenyum lalu mengangkat kedua jempolnya tanda dia setuju atas ideku tadi.
Keesokan harinya, kuputuskan menutup toko untuk mengambil istirahat sejenak dan membayar utang waktu bersama anak dan suami. Kugunakan juga untuk menemui Mbak Tika yang rumahnya tidak begitu jauh.
Obrolan bersama Mbak Tika yang berlangsung selama 30 menit membuatku patah hati seketika. Pasalnya, perempuan yang sudah berusia kepala tiga ini sudah telanjur menerima tawaran untuk mengasuh anak orang lain. Besok dia sudah mulai bekerja pula.
“Belum jodoh sama Mbak Tika, nggak apa-apa. Masih ada Bu Tatik, kan. Gimana? Mau sekarang ke rumahnya?” Mas Danu membesarkan hatiku sepulang dari rumah Mbak Tika tadi.
Akupun mengiyakan tawarannya. Kami berempat pergi ke rumah Bu Tatik yang jaraknya hanya 15 menit dari rumah. Sesampainya di gang rumah Bu Tatik kami disambut dengan gerombolan bapak-bapak yang sedang berkumpul entah membicarakan apa. Namun, yang menjadi perhatian utama kami adalah bahasa mereka yang sangat kasar dan kotor. Sangat tidak pantas didengar oleh anak-anak yang masih dalam masa menjadi mesin fotocopy tercanggih.
Obrolan dengan Bu Tatik membawaku pada kesimpulan bahwa dia mau mengasuh anak-anak di rumahnya karena kalau harus mengasuh di rumahku dia tidak sanggup. Alasannya karena anak bungsu yang masih sekolah masih butuh pengawasan darinya.
Kami pulang dengan membawa pertanyaan dan kekecewaan. Pertanyaan terbesarku, kenapa Allah berikan ujian serumit ini padaku yang sudah mulai bisa mewujudkan mimpi besarku?
Malam ini, suasana syahdu menyelimuti kampung. Rintik gerimis sejak magrib tadi belum berhenti ataupun menjadi hujan deras. Anak-anak tidur cepat mungkin karena terlalu lelah berkegiatan siangnya. Setelah memastikan mereka sudah dalam buaian mimpi indah, Mas Danu mengajakku duduk di ruang makan. Coklat hangat buatan tangannya menjadi andalan menu untuk membuat suasana hatiku yang sedang tidak baik-baik saja ini lebih tenang.
“Fix aku tutup toko dulu aja, deh, Mas. Nanti kalau Kakak udah sekolah baru merintis lagi. Gimana?” ungkapku dengan raut penuh keputus asaan.
“Yakin?” tanya suamiku yang sekarang sedang memijit pundakku.
Kuhela napas panjang. Sebenarnya ada rasa tidak rela dengan keputusan menutup toko sementara. Namun, aku sadar bahwa ada yang masih lebih membutuhkanku, yaitu anak-anak.
“Ya, mau gimana lagi, Mas? Sejak sibuk dengan toko Ceu Ria Bakery dan pesanan-pesanan, emosiku jadi labil banget. Kata Ibu, anak-anak jadi seperti anak telantar,” sahutku lirih tak bertenaga.
Mas Danu tiba-tiba melingkarkan tangannya untuk memelukku dari belakang. Dia selalu tahu yang kubutuhkan ketika aku sedang ada masalah. Sebuah pelukan hangat dan segelas coklat hangat.
“Kalau kamu rekrut karyawan buat bantu produksi kue aja gimana? Terus batasi pesanan per hari sesuai kemampuan produksi biasanya aja. Biar kamu atau karyawan kamu nggak kelelahan juga. Selain itu, kamu jadi bisa ngurus anak-anak seperti dulu lagi,” usul Mas Danu yang sebenarnya sangat masuk akal dan solutif.
Namun, aku masih ragu karena tidak yakin penghasilan dari toko kue cukup untuk membayar gaji karyawan. Rupanya Mas Danu tahu dengan keraguanku.
“Niatkan membuka lapangan kerja buat perempuan yang butuh kerjaan disekitar kita juga. Insyaa Allah dengan niat baik, akan dimudahkan datangnya rezeki kamu nanti,” nasihat Mas Danu yang membuatku semakin terpesona dengannya dan semakin yakin dengan solusinya.
Setelah diyakinkan oleh Mas Danu, aku bergegas untuk membuat pengumuman perekrutan pegawai. Pastinya di bantu oleh suami kesayangan yang selalu siap siaga untuk membantu, juga menghibur.
Tidak pernah kusangka mewujudkan mimpi ketika usia tak lagi muda, ketika sudah beranak dua, itu bisa. Asal suami bisa menjadi orang yang paling depan menjadi pendukung
