Selasa, 14 Januari 2025

Novel Renungan Untuk Remaja: Gilang Rindu Pulang

 

Sumber: canva app

Penulis: Patrick Kellan

enerbit: Patrick Kellan Publisher 

Halaman: 113


Blurb

“Mungkin keluarga adalah orang-orang yang kamu pikir akan selalu ada. Karena itu kamu sering mengabaikan mereka seolah kebersamaan kalian bisa tercipta kapan saja. Makanya kamu mau duduk mendekat hanya pada saat butuh mereka. Untuk bertanya atau meminta”

Tentang apa novel 'Gilang Rindu Pulang'?

Tiba-tiba harus berpisah dengan kedua orang tua dan juga seorang adik rupanya menjadi pukulan yang sangat berat bagi anak berusia 13 tahun. Walaupun ketika mereka semua ada, hubungan Gilang dengan mereka tidak selalu hangat. 

Ada masanya Gilang tidak peduli dengan nasihat dan pertanyaan ibunya, ada masanya dia suka sekali menjahili sang adik atau merasa sebal. Namun, nyatanya ketika mereka tidak lagi ada di dekat Gilang, hidupnya kehilangan tujuan pulang. Gilang akhirnya merasakan rindu pulang.


Bagaimana Kesan Setelah Membaca?

“Nangis aku baca cerita ini, Bu.”

Komentar si Kakak ketika selesai membaca novel ini. Ya, memang sesedih itu kisah Gilang Rindu Pulang ini setelah aku pun membacanya sampai tamat. 

Novel yang memang ditulis untuk anak remaja ini punya konflik yang sederhana, tapi sangat mengena. Sarat akan pesan moral tidak hanya untuk para remaja, melainkan juga untuk orang tua. 

Karakter Gilang di sini sangat mewakili anak-anak remaja pada umumnya. Sehingga membuat pembaca dengan mudah turut merasakan apa yang dirasakan oleh Gilang.

Dari kisah Gilang ini, kita bisa belajar bahwa semenyebalkan apapun orang tua atau saudara, merekalah tempat pulang paling nyaman. Jadi, di saat mereka masih ada di dekat kita, manfaatkan waktu untuk membangun hubungan yang hangat bersama mereka. Karena tidak selamanya akan bersama-sama. Perpisahan selalu ada didepan mata entah itu karena kematian atau hal lain.

Dari sudut pandang orang tua, yang bisa kusimpulkan dari novel ini adalah ngemong anak remaja itu sangat berbeda dengan anak masih balita. Sebagai orang tua harus selalu mengikuti perkembangan informasi agar bisa mengobrol dengan asyik dan nyambung seperti anak sedang mengobrol dengan temannya. Kalau kita tidak up date informasi, maka anak remaja kita akan seperti Gilang yang lebih nyaman mengobrol panjang lebar bersama teman-temannya.

Tidak bisa lagi sembarangan memberi nasihat apalagi setiap hari dengan nasihat yang sama dan intonasi menuntut. Atau memberi banyak pertanyaan yang lebih terkesan sedang menginterogasi si Remaja.

Selain sarat akan pesan moral, novel ini juga patut dibaca untuk kalian yang sedang mengalami reading slump. Jumlah halamannya hanya 113 dengan font yang tidak terlalu kecil. Bentuk bukunya yang tidak sebesar novel biasanya juga sangat membantu untuk memudahkan digenggam ke mana-mana agar segera selesai membaca. 

Ah, iya, tidak butuh waktu lama juga untuk membacanya. Mungkin bisa tamat dalam waktu 30 sampai 60 menit bahkan kurang.


Rabu, 01 Januari 2025

Novel Drama Rumah Tangga yang Berbeda. Review: Nirani (Dosa pada Gadis Kecil Itu)

 

Sumber:galeri ceritazha.blogspot.com

Penulis: Patrick Kellan
Penerbit: Patrick Kellan Publisher


Mengisahkan tentang apa?

"Jadilah seperti Nirani setiap saat. Dan jadilah seperti Mita di saat tertentu saja"

Sebuah pemikiran yang tercetus setelah menamatkan buku ini dan akan selalu kuingat demi mengamankan suami dan rumah tangga.

Novel ini mengangkat tema yang sudah umum sebenarnya. Tentang drama rumah tangga yang juga sudah banyak ditulis orang di banyak platform baca online maupun buku cetak.

Mengisahkan tentang seorang pria–Bang Dama yang terlalu bersikap baik kepada seorang anak magang–Nirani sampai kebablasan. Selain menghancurkan masa depan Nirani, Dama pun akhirnya menghancurkan rumah tangganya sendiri. Istrinya–Mita meminta berpisah tanpa adanya usaha berkomunikasi sebelumnya. Bahkan anak Dama pun terkena dampaknya, dia hancur juga masa depannya.


Bagaimana Rasanya Setelah Membaca Novel ini?

Novel bergenre drama rumah tangga ini terasa sangat berbeda alurnya ketika digarap oleh penulis satu ini. Seperti biasa, seorang Patrick Kellan selalu menulis dengan melihat dari berbagai sudut pandang yang berbeda dari kebanyakan orang.

Jujur membaca novel ini penuh dengan emosi, tetapi tidak bisa menyalahkan salah satu pihak. 

Dibeberapa bab awal, sempat merasa kesal

dengan salah satu tokohnya—Bang Dama. Sepenuhnya aku menyalahkan perilakunya yang serba terlalu kepada wanita lain.

Setelah bab demi bab kubaca dan dicerna perlahan, akhirnya kusadari bahwa tidak

sepatutnya melimpahkan semua kesalahan pada Bang Dama karena

bukan hanya dia yang bersalah. Ada penyebab yang menjadikan Bang Dama berbuat dan berperilaku yang kurang baik untuk keutuhan rumah tangganya.

Mau menyalahkan Nirani? Setelah membaca banyak halaman, sangat dibuat dilema dengan tokoh ini. Ingin menyalahkan, tapi dia juga pantas untuk dikasihani.

Bagaimana dengan istri Bang Dama–Mita? Sama saja. Penulis membuat tokoh ini seakan menjadi korban yang paling tersakiti, tapi kalau dilihat lebih jeli, Mita pun punya andil menjadi penyebab rumah tangganya kacau.


Nah, loh bingung kan mau menyalahkan tokoh yang mana?

Itulah salah satu istimewanya novel ini. Tidak ada salah satu tokoh yang disudutkan. Semua sama, punya kesalahan dan kebaikan layaknya kita di dunia nyata.

Cerita ini punya plot twist yang sangat bagus menurutku karena sulit sekali ditebak alur ceritanya. Disetiap bab selalu ada kejutan yang membuatku tidak bisa berhenti membaca kalau belum sampai tamat. Ini menjadi salah satu bukti bahwa penulis sangat piawai memilah kata dan merangkainya sehingga bisa dengan mudah dicerna kisahnya serta dilahap pesan moralnya.


Pesan Moral Apa yang Didapatkan?

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisah Nirani ini. Diantaranya, sebangga-bangganya seorang suami ketika istrinya bisa mandiri, ternyata mereka tetap menginginkan istrinya bermanja-manja karena fitrah seorang lelaki yang selalu ingin merasa dibutuhkan. 

Hidup berumah tangga tidak akan lepas dari masalah. Maka, serumit apa pun masalah itu, tetap butuh dikomunikasikan dengan baik sebelum mengambil keputusan. Baiknya juga tidak mengambil keputusan ketika emosi negatif masih menguasai hati dan pikiran seperti Mita.

Ketika sepasang suami istri tidak hanya hidup berdua, mereka sudah punya anak, maka alangkah baiknya seburuk-buruknya sifat pasangan, jangan pernah membuka aibnya di depan anak. Faktanya hal itu akan terekam kuat di memori anak, sehingga di masa depan bisa jadi sifat orang tuanya akan ditiru atau anak akan kehilangan kepercayaan terhadap orang tua. Kalau sudah begitu, bisa jadi anak akan menjauh atau malah benci kepada orang tuanya. Akhirnya dia akan kehilangan sosok orang tua yang sebenarnya masih sangat dia butuhkan.


Nah, begitu dalam pesan moral dari novel ini untuk pembacanya. Begitu riil juga karakter serta kisahnya. Rugi rasanya kalau tidak baca.


Review Buku

Review Drakor Akhir Tahun 2023: Gyeongseong Creature Season 1

  Review Drakor Akhir Tahun 2023: Gyeongseong Creature Season 1 Poster Drakor Gyeongseong Creature Sumber: google.com   Cerita Singkat Gyeon...