![]() |
| Foto galeri ceritazha.blogspot.com |
Hari tasyrik kedua, sekolah anak-anak masih libur. Tiba-tiba saja ada yang mengajak main ke gunung. Yeay, semua langsung berseru dengan semangat, lalu segera bersiap-siap.
Sebenarnya ajakan mendaki gunung ini disebabkan adanya rengekan anak sulung beberapa minggu yang lalu. Dia yang sudah ke sana bersama teman-teman dan gurunya masih kurang puas. Katanya hanya sebentar di puncak karena cuaca sudah sangat panas sehingga tidak punya dokumentasi. Kemarin, Rabu pagi, si Ayah akhirnya mewujudkan keinginannya kembali.
Perjalanan menuju Gunung Betet
Kami berangkat dari rumah pukul 06.00 wib mengendarai 2 sepeda motor dengan membawa 2 tas ransel berisi peralatan masak dan makan. Tentu yang tidak boleh tertinggal adalah bahan makanan berupa mie instan juga baso. Tidak butuh waktu lama untuk sampai lokasi karena memang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah. Karena tidak ada penitipan motor yang dirasa aman, maka kami menitipkan kendaraan di rumah teman suami.
Setelah motor berada di tempat yang aman, barulah kami mulai mendaki. Let’s go!
Sebenarnya jalur pendakian ada 2. Jalur yang landai, tetapi akan banyak menemui tanaman berduri kecil-kecil seperti yang pernah dilewati si Sulung ketika bersama teman sekolahnya.
Nah, jalur lainnya tidak ada tanaman berduri, tetapi lumayan menanjak. Ya, sukseslah untuk membuat kita ngos-ngosan. Dan jalur inilah yang dipilih si Ayah untuk mencapai puncak.
Lucunya, kami sempat agak salah arah karena mengikuti anak-anak tangga yang ternyata menuju ke pemakaman. Padahal saat di bawah kita sebenarnya sudah membaca tulisan ada makam. Ya, syukurnya suami cepat sadar, jadi segera berbalik arah dan menuju jalur yang benar.
Jalur yang benar untuk menuju puncak ternyata berupa tanah liat yang kering dan pecah-pecah ditutupi oleh banyak daun jati kering yang gugur. Di samping kanan kiri kami, rerumputan pun banyak yang mengering. Hal itu, dikarenakan memang sudah masuk musim panas di daerah ini.
Jalan setapak yang cukup menanjak ternyata tidak menyurutkan semangat melangkah anak-anak untuk sampai puncak. Ya, walaupun napas kami lumayan tersengal-sengal, tapi masih bisa diatur.
Kira-kira setelah berjalan selama 45 menitan, sampailah kami di puncak Gunung Betet. Yeay, maasya Allah kami semua girang bukan kepalang. Apalagi melihat hamparan hijau yang luas di bawah sana. Langit yang biru dengan cahaya matahari yang mulai menghangat. Sungguh indah ciptaanNya.
Terus, kalau sudah di puncak mau apa?
![]() |
| Foto galeri ceritazha.blogspot.com |
Tentu saja kami sibuk berfoto gantian. Ehm … aku dan si sulung maksudnya. Sementara si Ayah dan adik sibuk menyiapkan kompor dan kawan-kawannya untuk memasak sarapan.
Lapar sudah melanda kami berempat, maka kegiatan berfoto untuk sementara dihentikan dulu. Aku dan si Sulung akhirnya turun tangan membantu duo lelaki memasak dan menyiapkan mie instan.
Sembari menikmati indahnya alam ciptaan Allah, kami menikmati sarapan bersama, ngobrol bersama, sekaligus membuat dokumentasi berupa video dan juga foto tentunya.
Ah, sungguh nikmat manalagi yang akan kudustakan. Momen seperti ini, kebersamaan yang masih full team seperti ini, pemandangan luar biasa itu, belum tentu bisa dinikmati setiap pekan atau setiap bulan. Maka, sungguh harus dinikmati setiap momen indah yang ada walaupun capai sedikit melanda. Yang penting masih tetap happy semua.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar