Malam ini, kali kedua mengunjungi tempat wisata kuliner yang belum lama ini dibuka. “Taman Djadjan Aliza” namanya. Kalau tidak salah menebak, tempat kuliner ini didirikan oleh komunitas TDA (Tangan di Atas).
Tempat ini berlokasi di jl. A. Yani 115, persis di depan SMAN 1 Blitar. Baru pada 1 Juni 2024 kemarin tempat ini resmi dibuka dengan jam operasional mulai pukul 10.00-22.00wib. Walaupun berada di jalan raya yang ramai lalu lalang kendaraan, tapi tempat ini tetap nyaman untuk menghabiskan waktu bersama keluarga ataupun teman.
Konsep tempat yang dibuat layaknya kafe outdoor, dengan tatanan yang estetik, dan tersedianya sarana bermain anak membuat betah para pengunjung untuk berlama-lama di sini. Buktinya semalam aku melihat pemandangan yang menarik, seorang ibu muda dengan telatennya menyuapi si anak yang tidak bisa diam memutari mini playground sambil makan. Ya, mungkin ada kurang lebih satu jam seperti itu terus sampai selesai makan lalu barulah mereka pulang.
Di tempat ini, kalau tidak salah hitung ada sekitar 8-10 booth yang tersedia. Mulai dari makanan berat seperti nasi lalapan, ayam bakar, bakso, pempek, roti-rotian, dan lain-lain. Jajanan yang tergolong makanan lumayan ringan pun ada, seperti gorengan, seblak, wonton, sate taican, kentang goreng, dan masih banyak lagi. Nah, kalau untuk minuman, ada minuman dingin serta hangat. Mmm … sepertinya masih banyak yang belum kusebutkan karena memang tidak hafal.
Berbeda dengan tempat-tempat kuliner lainnya, di Taman Djadjan Aliza ini tidak dipungut biaya parkir kendaraan. Lumayanlah, ya hemat Rp 2000 bagi pengendara motor dan hemat Rp 3000 untuk yang membawa mobil.
Tempat parkirnya memang tidak terlalu luas untuk sepeda motor, tetapi tetap bisa berjajar rapi karena ada yang bertugas merapikan. Parkir sepeda motor terletak di halaman depan taman, sedangkan parkir mobil ada di belakang lokasi sehingga tidak memenuhi bahu jalan jika sedang ramai pengunjung.
Ketika semalam di tempat ini agak lama, setelah kuperhatikan dengan saksama rupanya semua penjual di sini terlihat masih muda-muda. Terlihat juga mereka sudah punya pembagian kerja sendiri yang sudah jelas.
Untuk penjual, ya tugasnya melayani pelanggan yang membeli produknya. Ada yang sekaligus mengantar ke meja pelanggan juga, sih, tapi ada juga yang tidak. Untuk yang tidak diantar oleh penjualnya, terlihat ada sendiri orang yang mengantar ke meja pelanggan atau pelanggan yang mengambil pesanan.
Nah, ketika ada pengunjung yang sudah selesai dan pulang, akan ada orang-orang tertentu yang membersihkan meja-mejanya. Selain membersihkan meja, mereka juga harus mengembalikan wadah-wadah makanan ke pemiliknya masing-masing. Tertata rapi sekali pembagian kerjanya walaupun ini tempat kuliner baru.
Tentang fasilitas yang lain, jangan khawatir, ada, kok. Sudah tersedia kamar mandi yang terlihat masih bersih luar dan dalamnya.
Kerennya lagi, ternyata disediakan juga musala yang terpisah antara laki-laki dan perempuan.
Kalau tangan kita kotor setelah dipakai makan, tidak perlu bingung mencari tempat cuci tangan. Sudah disediakan wastafel juga di dekat toilet.
Namun, sayang tempat yang berpotensi ramai dikunjungi kedepannya ini, masih kurang tempat duduknya. Ya, semoga nanti seiring dengan semakin dikenalnya tempat ini, akan ada penambahan tempat duduk dan perluasan lokasi.
Menurutku ada yang kurang lagi, yaitu untuk penjaja minuman yang hanya ada di satu booth saja dengan variasi yang sudah cukup banyak, sih. Namun, kalau sering ke sana rasanya jadi masih kurang variannya. Semoga ke depannya akan ada variasi baru lagi.
Info selanjutnya yang paling ditunggu-tunggu kalau ada review tempat kuliner atau review makanan pasti tentang harga. Hmmm … tentang harga masih dalam batas wajar, kok. Ada harga, ada rasa. Untuk makanan kalau aku tidak salah ingat harganya mulai dari Rp 5.000 sampai belasan ribu. Sedangkan untuk minuman berkisar antara Rp 10.000 sampai Rp 15.000. Hanya air mineral yang ada manis-manisnya yang harganya dibawah Rp 5.000.
Soal rasa makanan dan minuman, aku rasa sesuai dengan harganya. Enak, kok. Namun, yang menjadi favorit anak-anak sepertinya bakso Cak Tam dan pempek Pak Ndan yang cukonya pas sekali di lidah. Masih banyak yang belum dicoba, jadi belum berani mengambil kesimpulan mana yang benar-benar menjadi favorit.
Bagaimana? Semakin penasaran main ke Taman Djadjan Aliza?
Untuk warga Blitar, segera saja meluncur bersama yang tersayang.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar