![]() |
| Gambar koleksi ceritazha.blogspot.com |
Judul: Spion
Penulis: Meiska
Penerbit: Patrick Kellan Publisher
Halaman: 229
Blurb
Bagi Ardian, kuntilanak yang bersarang di spion mobilnya sama sekali tidak mengganggu. Dia justru membantunya mengungkap berbagai kasus pembunuhan. Sampai suatu ketika kemunculan seorang gadis bernama Renata, membawanya pada sejumlah informasi tentang sebuah kasus yang melibatkan si Kunti dan seorang pebisnis bernama Tanu Wijaya.
Bersama dengan sahabatnya, Sandi, seorang ahli digital forensik, Ardian menelusuri potongan-potongan informasi yang didapatkan dari si Kunti. Nyatanya si Kunti tidak hanya merupakan informan dari alam ghaib, dia juga memiliki peran besar dalam kehidupan Ardian di masa lalu.
Siapakah si Kunti sebenarnya?
Apakah Ardian mampu mengungkap kasus besar itu?
Review
Awal mula membaca blurb novel ini sudah yakin tidak akan membacanya karena ada tokoh kuntilanak di dalamnya. Kalau ada sosok makhluk ghaib disebuah cerita, sudah pasti genrenya horor. Dan aku paling anti dengan genre itu karena bisa terbayang-bayang sosok-sosok ghaibnya sampai berhari-hari sehingga takut kalau sendiri.
Namun, keyakinan itu perlahan memudar karena bujukan teman-teman yang sudah membaca. Mereka bilang, ini bukan novel horor seperti yang kubayangkan. Bahkan tokoh hantu di sini sama sekali tidak dibuat menakutkan oleh penulis.
Setelah menimbang cukup lama, akhirnya memberanikan diri untuk meminang buku ini dari seseorang, lalu mencoba membacanya. Dan ternyata benar, novel ini bukan sepenuhnya bergenre horor, ada misteri juga komedi dengan bumbu-bumbu romansa.
Membaca 2 atau 3 bab awal jujur saja aku merasa bosan karena kasusnya gampang sekali dipecahkan, lalu selesai. Namun, feelingku mengatakan bahwa mana mungkin buku setebal itu hanya membahas kasus-kasus yang sekali dilahap selesai. Pasti ada kasus besarnya yang akan menjadi misteri.
Benar. Semakin ke belakang, semakin banyak pertanyaan di kepala saking juaranya plot twist yang dibuat oleh penulis. Kadang harus memperlambat tempo membaca karena harus menghubungkan kejadian demi kejadian di masa lalu untuk mendapat benang merah dari cerita Ardian hingga akhirnya semua terpecahkan. Dan identitas si Kunti juga Ardian terkuak.
Gaya bercerita penulis yang santai, tidak kaku, dan menggunakan bahasa sehari-hari ini menjadi salah satu kenyamanan tersendiri untuk membacanya. Dibalut dengan komedi yang mampu membuat pembaca ikut tersenyum-senyum sendiri menambah rasa malas untuk menutup buku ini sebelum sampai di halaman akhir.
Penggambaran karakter tokoh-tokohnya jelas dan kuat. Begitupun dengan setting tempat dan waktu digambarkan dengan jelas pula oleh penulis sehingga membuat pembaca dengan mudah mengimajinasikan setiap adegan sampai terbawa suasana yang tegang.
Kisah romansa tipis-tipis antara Ardian dan Renata bisa menjadi pemecah ketegangan saat membaca. Ya, walaupun kadang geli sendiri dengan kelakuan Ardian ketika sedang mencoba merayu Renata.
Baca juga Review Novel Pulang-Pergi Tere Liye
Adegan Paling Berkesan
Banyak sekali adegan yang berkesan sepanjang membaca novel ini sebenarnya. Namun, kalau dicari yang paling berkesan mungkin saat Ardian kecelakaan. Dalam keadaan antara sadar dan tidak, dia bersama si Kunti berada di masa lalu yang pada akhirnya menjadi jalan terang untuk kasus yang sedang dia selidiki.
Pesan Moral
Di negeri ini, sebenarnya masih ada aparat penegak hukum yang bisa diandalkan dan benar-benar menegakkan hukum tanpa pandang status sosial. Namun, sayang jalan mereka tidak bisa mulus apalagi jika kasus tersebut berhubungan dengan orang penting.
Kasih sayang orang tua untuk anaknya memang benar sepanjang jalan, tanpa batasan.
Alangkah baiknya jika kita tidak sembarangan memberikan label pada orang lain terutama tentang dari siapa dia dilahirkan.
Kesimpulannya, dari novel ini kita bisa tahu gambaran bagaimana dunia bisnis dan kondisi penegak hukum di negara ini. Baik dan buruk selalu ada, tidak bisa benar-benar dipisahkan.
“Mencari keadilan di negeri ini bukan hal yang mudah, apalagi bagi orang yang tidak memiliki kuasa atau harta”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar