![]() |
| Sumber: istockphoto.com |
Ayah dan Ibu sudah menerima rapor anak-anak? Bagaimana hasil belajar anak selama satu semester kemarin? Apakah ada yang merasa kurang puas dengan hasil belajar mereka yang tertulis di rapor?
Untuk Ayah dan Ibu yang setelah melihat hasil belajar anak-anaknya merasa kurang puas, yuk simak beberapa hal yang sebaiknya tidak kalian lakukan. Demi menjaga kesehatan mental sang anak, loh.
Marah-marah
“Janganlah marah-marah, maka bagimu surga”
Begitulah sebuah hadits yang dihafalkan anak-anak ketika belajar di jenjang TK dulu. Ayah, Ibu, tidak perlu memarahi anak-anak ketika nilai rapor mereka kurang memuaskan menurut kita. Kemarahan kita hanya akan meninggalkan bekas luka di hati, bahkan mereka bisa membawa luka itu sampai dewasa nanti.
Bagaimanapun nilai yang tertera di rapor, itu adalah hasil usaha anak, jadi sepatutnya kita sebagai orang tua dapat menghargai mereka. Bagaimana caranya?
Ya, dengan tidak perlu marah kepada mereka. Ucapkan saja terima kasih atas usaha kerasnya.
Membandingkan anak dengan temannya
Coba bayangkan ketika kalian yang dibandingkan dengan orang lain, bagaimana rasanya? Suka atau tidak?
Kutebak pasti kalian tidak akan suka. Pasti akan merasa kesal. Jadi, alangkah lebih bijak sebagai orang tua, kita tidak perlu melakukan hal tersebut.
“Bukan bermaksud membandingkan, tapi untuk memberi motivasi kepada anak, kok.”
Ada, kok cara lain untuk memberi motivasi kepada anak. Misalnya, dengan memberi afirmasi positif bahwa dia bisa lebih baik jika jam belajarnya ditambah 10-15 menit. Jadi, tidak perlu membandingkan dengan temannya. Lebih baik ajak anak membandingkan kemampuannya yang kemarin dengan saat ini. Pasti mereka akan bangga pada dirinya karena tahu kemampuannya sudah berkembang.
Menghukum anak
Nilai rapor kurang memuaskan orang tua, lalu anak dihukum? Ini persis model parenting zaman saya masih menjadi pelajar belasan tahun silam. Masa iya sekarang masih mau menganut pengasuhan yang seperti itu?
Menurutku menghukum anak bukanlah jalan yang baik kalau tujuannya agar mereka berubah menjadi lebih baik. Malah ada kemungkinan berefek seperti dimarahi, menimbulkan luka hati.
Justru akan lebih bijak kalau mereka dirangkul, lalu diajak berdiskusi agar orang tua tahu apa yang menjadi masalah bagi anak saat belajar. Apa kesulitan terbesar mereka sehingga nilainya kurang?
Menuntut anak
“Ibu nggak mau tahu. Semester depan kamu harus dapat nilai sempurna!”
Wah, bagaimana perasaan anak ketika mendengar tuntutan begini? Kalau aku mungkin justru akan merasa terbebani. Bisa jadi malah tambah stres juga.
Nah, kalau sudah merasa terbebani kemungkinan besar anak tidak akan bisa menikmati proses belajarnya. Bisa juga mereka akan menjadi anak yang penuh denga kecurangan demi memenuhi tuntutan orang tua.
Jadi, ayah, ibu tidak perlu menuntut anak, ya. Mereka bukan tersangka.
Anak-anak zaman sekarang yang sering disebut dengan generasi strawberry, tidak bisa disamakan pola asuhnya dengan generasi milenial. Maka, sebagai orang tua harus terus memupuk semangat belajarnya demi memberi pendidikan terbaik untuk mereka. Karena pendidikan utama itu bukan daei sekolah, melainkan dari rumah.
“Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu” (Ali bin Abi Thalib)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar