![]() |
Source: canva app |
Sabtu, 12 Oktober 2024
Reading Slump? Inilah 5 Cara Mengatasinya
Minggu, 07 Juli 2024
Cerpen: Ceu Ria Bakery
“Sekolah tinggi-tinggi jadi sarjana, ujungnya cuma di rumah momong anak. Apa nggak rugi orang tuanya ngeluarin duit banyak?” Suara Bu Atin memang pelan dan lembut ketika menyampaikan pendapatnya di depan ibu-ibu lain saat sedang belanja di warung. Namun, ditelingaku tetap saja mampu meninggalkan goresan yang dalam sehingga terasa sekali nyerinya. Kalimat-kalimat serupa sebenarnya sudah sering kudengar dari mereka yang hobi berkumpul di warung. Awalnya kuabaikan saja, tetapi pada akhirnya berhasil mengusik pikiran selama beberapa pekan ini.
Malam ini, kuberanikan diri menyampaikan ide yang sebenarnya adalah mimpi besarku sejak masih berseragam putih abu-abu dulu. Di atas kasur yang berukuran besar, aku bergeser ke samping Mas Danu ketika anak-anak sudah terlelap. Dalam dekapan suami yang tidak banyak menuntut ini, kusampaikan keinginanku yang sudah terpendam selama bertahun-tahun.
“Mas, boleh nggak aku buka pesanan kue online dan buka toko kue di rumah? Aku tetap bisa jagain anak-anak, kan kalau kerja di rumah,” tanyaku pelan.
Mas Danu tidak lantas menjawab. Dia diam sambil terus mengelus rambutku. Mungkin sedang menimbang-nimbang segala sesuatunya, terutama urusan anak-anak. Helaan napas panjangnya kudengar jelas karena kepalaku sedang bersandar di dadanya.
“Kenapa tiba-tiba punya ide begitu? Nggak jadi nunggu anak-anak sekolah dulu?” tanyanya dengan suara yang lembut.
Aku diam. Hanya memainkan jariku di dadanya. Bingung harus menjawab bagaimana. Kalau jujur kusampaikan alasanku, mungkin dia tidak akan izinkan karena dia bukan orang yang gampang memedulikan komentar orang lain.
“Lah, kok diam?” tanyanya penasaran.
Aku mengubah posisi berbaring menjadi duduk menghadap Mas Danu. Dia tampak tersenyum melihatku yang duduk tegak di sampingnya pertanda aku ingin menyampaikan sesuatu yang serius. Lalu, dia pun ikut duduk menghadapku.
“Punya usaha kue itu mimpi besarku sejak SMA, Mas. Lulus kuliah langsung kamu ajak nikah, terus hamil dua anak, ngurusin mereka. Rasanya mimpiku sudah terlalu lama dimasukin goa, deh,” keluhku.
Mas Danu tersenyum manis sekali menanggapi alasanku. Kini duduknya sudah bergeser di sebelah kiri, lalu tangannya dilingkarkan ke badanku yang mungil ini.
“Iya, aku tahu cita-citamu. Sudah dipikirkan matang-matang? Boleh saja asalkan kamu bisa bagi waktu dengan baik. Anak-anak dan suamimu ini nggak ditelantarin aja, Sayang,” jawabnya yang membuat hatiku dipenuhi bunga warna warni yang bermekaran.
Kupeluk dengan erat Mas Danu sambil berbisik di telinganya kuucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya sudah memberiku ruang mewujudkan cita-citaku.
***
Disela-sela waktu mengurus suami, anak dan rumah, aku mempelajari bagaimana para penjual kue itu menjajakan dagangannya di media sosial. Suami pun turut memberikan informasi jajanan apa saja yang sedang digandrungi banyak orang saat ini.
Setelah satu minggu belajar sendiri, kuberanikan diri membuat beberapa jenis kue ketika anak-anak sedang asyik bermain. Lalu, memotretnya sebagai bahan iklan di media-media sosial nantinya. Setelah foto sedikit diperbaiki agar lebih menarik, aku sebenarnya tak sabar untuk mencoba mengiklankannya. Namun, belum saatnya. Aku hanya membuat kue sedikit untuk bahan pemotretan saja dan setelah itu menjadi cemilan untuk anak-anak dan suami.
Tiba-tiba terlintas nama untuk tokoku ini. "Ceu Ria Bakery" punya dua makna, yaitu toko bakery punya Ceu Ria dan juga berarti toko bakery yang selalu membuat pelanggannya ceria. Hmm ... bagus juga.
Dua hari kemudian aku membuat beberapa jenis kue yang sedang viral sembari mengasuh dua anak yang sedikit-sedikit memanggilku karena butuh bantuan. Lalu kuberanikan diri untuk mengirim foto iklan yang sudah kusiapkan kemarin ke grup chat teman-teman SMA dan juga grup chat warga satu RT. Respon yang membuatku tidak berhenti tersenyum adalah dari teman-teman SMA karena mereka sudah pernah merasakan hasil karyaku dulu ketika kami mengadakan reuni.
Hari pertama, paling banyak pesanan masuk dari teman-teman SMA yang meminta diantar ke tempat kerjanya dan yang dekat dari rumah, minta diantar ke rumah saja. Terpaksa aku meminjam motor bapak untuk mengantar sambil mengajak anak-anak karena Mas Danu masih berada di toko. Sampai menjelang magrib, masih ada beberapa kue yang belum bertuan, jadi menjadi cemilan malam ini untuk kami sekeluarga.
“Nggak apa-apa namanya juga masih hari pertama jualan. Aku dan anak-anak dengan senang hati akan menghabiskan sisanya. Semoga besok-besok ludes terjual semua tanpa sisa, ya, Sayang,” ujar Mas Danu yang mendengar laporan penjualanku hari ini.
Mas Danu benar-benar menjadi pendukung utamaku. Dia mau bangun lebih pagi bersamaku lalu membantu menyiapkan alat dan bahan untuk memproduksi kue. Sebelum pergi kerja pun dia selalu membantu mengurus anak-anak, sedangkan aku sudah sibuk berkutat di dapur untuk memasak dan juga mulai memproduksi kue.
Ketika urusan dengan anak-anak selesai, barulah Mas Danu berangkat kerja. Sedangkan aku mulai membungkus sebagian kue yang sudah matang sembari tetap mengasuh duo balita yang juga sibuk ingin membantuku. Kadang niat baik mereka kusambut dengan bahagia, tetapi bisa juga malah mengundang emosi saja kalau sudah terjadi pertengkaran karena berebut.
Semakin lama, toko kue di rumah semakin dikenal banyak orang. Tidak hanya orang sekampung, melainkan orang dari kampung sebelah dan juga orang-orang kantoran yang mendapat rekomendasi dari teman-teman SMAku. Bahkan ada seorang istri pejabat daerah yang menyatakan ingin berlangganan dengan tokoku sewaktu-waktu ada acara.
Bahagia memenuhi hatiku karena merasa berhasil mewujudkan mimpi yang sudah lama hanya menjadi angan-angan. Namun, ketika malam tiba, aku sering merasa bersalah kepada anak-anak dan suami karena waktu untuk mereka berkurang drastis. Apalagi kepada anak-anak, sering sekali mereka menjadi sasaran kemarahanku kalau mereka ngeyel membantu, tetapi faktanya malah kadang mengacak-acak bahan kue atau merusak kue yang sudah siap dibungkus.
“Semua butuh pengorbanan, Sayang. Sekarang kamu sudah tahu apa yang harus kamu korbankan untuk menggapai mimpimu. Tinggal evaluasi saja apa yang harus diperbaiki agar semua bisa berjalan dengan baik,” nasihat Mas Danu ketika kuungkap kegelisahan yang terpendam beberapa hari ini.
“Apa aku tutup aja tokonya untuk sementara, ya, Mas? Tahun depan dibuka lagi. Kan si Kakak udah masuk sekolah tahun depan,” sahutku mengutarakan ide yang sudah kupikirkan masak-masak.
“Tidak perlu mundur setelah kamu maju seribu langkah. Kita cari solusi untuk memperbaiki yang masih kurang baik, ya,” tutur Mas Danu.
Lagi-lagi suamiku menunjukkan kebijaksanaannya dalam menyikapi kelabilanku. Tidak tampak kemarahan sedikitpun dari sorot mata dan intonasi bicaranya. Tidak pula ada kalimat menyalahkan selama waktu dan perhatianku untuknya dan anak-anak berkurang. Justru orang tuaku yang pernah memprotes kalau aku terlalu sibuk bekerja sampai anak-anak seperti ditelantarkan.
“Mas, apa anak-anak dititipkan saja? Di lingkungan sini ada Bu Tatik, Mbak Tika, dan Mak Yem yang biasa momong anak kecil.” Tiba-tiba terlintas ide di kepalaku, lalu terlintas nama-nama itu untuk menjadi kandidat pengasuh dua balitaku.
Mas Danu tampak mengernyit mendengar ide dadakan dariku. Dia diam sejenak untuk berpikir mungkin.
“Mak Yem? yakin mau dikasih dia anak-anak? Suami dan anak-anaknya Mak Yem itu perokok, lho. Aku khawatir sama kesehatan anak-anak, deh, Yang,” ungkapnya setelah beberapa detik berpikir.
Ah, iya juga pikirku. Risiko perokok pasif malah lebih berat dibandingkan perokok aktif. Jadi, kandidatnya hanya tinggal dua orang sekarang.
“Gimana kalau Mbak Tika aja, Mas? Dia masih muda dan kayaknya juga telaten ngajari anak-anak. Semoga dia nggak lagi ada momongan,” celetukku setelah berpikir singkat siapa yang paling baik untuk mengasuh anak-anak.
Mas Danu tersenyum lalu mengangkat kedua jempolnya tanda dia setuju atas ideku tadi.
Keesokan harinya, kuputuskan menutup toko untuk mengambil istirahat sejenak dan membayar utang waktu bersama anak dan suami. Kugunakan juga untuk menemui Mbak Tika yang rumahnya tidak begitu jauh.
Obrolan bersama Mbak Tika yang berlangsung selama 30 menit membuatku patah hati seketika. Pasalnya, perempuan yang sudah berusia kepala tiga ini sudah telanjur menerima tawaran untuk mengasuh anak orang lain. Besok dia sudah mulai bekerja pula.
“Belum jodoh sama Mbak Tika, nggak apa-apa. Masih ada Bu Tatik, kan. Gimana? Mau sekarang ke rumahnya?” Mas Danu membesarkan hatiku sepulang dari rumah Mbak Tika tadi.
Akupun mengiyakan tawarannya. Kami berempat pergi ke rumah Bu Tatik yang jaraknya hanya 15 menit dari rumah. Sesampainya di gang rumah Bu Tatik kami disambut dengan gerombolan bapak-bapak yang sedang berkumpul entah membicarakan apa. Namun, yang menjadi perhatian utama kami adalah bahasa mereka yang sangat kasar dan kotor. Sangat tidak pantas didengar oleh anak-anak yang masih dalam masa menjadi mesin fotocopy tercanggih.
Obrolan dengan Bu Tatik membawaku pada kesimpulan bahwa dia mau mengasuh anak-anak di rumahnya karena kalau harus mengasuh di rumahku dia tidak sanggup. Alasannya karena anak bungsu yang masih sekolah masih butuh pengawasan darinya.
Kami pulang dengan membawa pertanyaan dan kekecewaan. Pertanyaan terbesarku, kenapa Allah berikan ujian serumit ini padaku yang sudah mulai bisa mewujudkan mimpi besarku?
Malam ini, suasana syahdu menyelimuti kampung. Rintik gerimis sejak magrib tadi belum berhenti ataupun menjadi hujan deras. Anak-anak tidur cepat mungkin karena terlalu lelah berkegiatan siangnya. Setelah memastikan mereka sudah dalam buaian mimpi indah, Mas Danu mengajakku duduk di ruang makan. Coklat hangat buatan tangannya menjadi andalan menu untuk membuat suasana hatiku yang sedang tidak baik-baik saja ini lebih tenang.
“Fix aku tutup toko dulu aja, deh, Mas. Nanti kalau Kakak udah sekolah baru merintis lagi. Gimana?” ungkapku dengan raut penuh keputus asaan.
“Yakin?” tanya suamiku yang sekarang sedang memijit pundakku.
Kuhela napas panjang. Sebenarnya ada rasa tidak rela dengan keputusan menutup toko sementara. Namun, aku sadar bahwa ada yang masih lebih membutuhkanku, yaitu anak-anak.
“Ya, mau gimana lagi, Mas? Sejak sibuk dengan toko Ceu Ria Bakery dan pesanan-pesanan, emosiku jadi labil banget. Kata Ibu, anak-anak jadi seperti anak telantar,” sahutku lirih tak bertenaga.
Mas Danu tiba-tiba melingkarkan tangannya untuk memelukku dari belakang. Dia selalu tahu yang kubutuhkan ketika aku sedang ada masalah. Sebuah pelukan hangat dan segelas coklat hangat.
“Kalau kamu rekrut karyawan buat bantu produksi kue aja gimana? Terus batasi pesanan per hari sesuai kemampuan produksi biasanya aja. Biar kamu atau karyawan kamu nggak kelelahan juga. Selain itu, kamu jadi bisa ngurus anak-anak seperti dulu lagi,” usul Mas Danu yang sebenarnya sangat masuk akal dan solutif.
Namun, aku masih ragu karena tidak yakin penghasilan dari toko kue cukup untuk membayar gaji karyawan. Rupanya Mas Danu tahu dengan keraguanku.
“Niatkan membuka lapangan kerja buat perempuan yang butuh kerjaan disekitar kita juga. Insyaa Allah dengan niat baik, akan dimudahkan datangnya rezeki kamu nanti,” nasihat Mas Danu yang membuatku semakin terpesona dengannya dan semakin yakin dengan solusinya.
Setelah diyakinkan oleh Mas Danu, aku bergegas untuk membuat pengumuman perekrutan pegawai. Pastinya di bantu oleh suami kesayangan yang selalu siap siaga untuk membantu, juga menghibur.
Tidak pernah kusangka mewujudkan mimpi ketika usia tak lagi muda, ketika sudah beranak dua, itu bisa. Asal suami bisa menjadi orang yang paling depan menjadi pendukung
Sabtu, 06 Juli 2024
6 Rekomendasi Tempat Berlibur Gratis Di Kota dan Kabupaten Blitar
Libur panjang biasanya menjadi momen untuk pergi jalan-jalan bersama keluarga tercinta demi mengisi waktu agar anak tidak melulu memegang gadgetnya. Selain itu, juga untuk mencari suasana yang berbeda demi badan dan otak kembali fresh. Betul tidak?
Namun, saat liburan akhir semester seperti ini banyak orang tua yang harus mengeluarkan banyak uang untuk biaya daftar ulang sekolah anak. Belum lagi jika perlengkapan sekolah mereka ada yang rusak atau habis, butuh biaya tambahan lagi, dong pasti. Nah, aku akan merekomendasikan beberapa tempat wisata yang murah meriah untuk mengisi libur panjang ini bersama anak.
Berikut 6 Rekomendasi Tempat Berlibur Gratis Di Kota dan Kabupaten Blitar
Alun-alun Kota Blitar
Alun-alun Kota Blitar ini menjadi salah satu tempat andalan ketika anak-anak minta bermain di luar rumah. Berlokasi di pusat kota, dekat dengan masjid, dan terdapat beberapa alat olahraga yang kadang oleh anak-anak dijadikan sarana bermain. Sekarang ini, di alun-alun juga ada air mancur yang kadang ketika dinyalakan digunakan untuk bermain basah-basahan oleh anak kecil-kecil.
Tempatnya yang luas bisa menjadi wahana bermain sepeda, bermain bola, bermain layang-layang, dan bisa juga untuk sarana olahraga lari.
Untuk masuk ke alun-alun tentu saja tidak dipungut biaya, tetapi demi keamanan kendaraan yang kita bawa harus membayar parkir sebesar Rp 2.000 untuk sepeda motor dan Rp 3.000 untuk mobil. Kalau tidak mau kena tarif parkir, bisa juga pergi menggunakan sepedah.
Kebonrojo
Tempat yang paling menjadi andalan ketika anak minta jalan-jalan sedangkan ayahnya tidak bisa ikut serta. Lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah, jadi bisa pergi ke sana hanya bersama anak.
Di taman kota ini tersedia beberapa wahana permainan dari yang gratis sampai berbayar pun ada. Mau membeli makanan berat sampai jajanan ringan juga banyak pilihannya kalau weekend.
Bukan hanya wahana bermain, kebun binatang mini pun ada di sini. Terdapat beberapa jenis burung, rusa, monyet, ayam, dan yang terbaru ada beberapa kucing yang hanya bisa dilihat dari luar ruangan kaca.
Untuk masuk ke taman ini sebenarnya gratis, tetapi untuk menitipkan motor atau mobil kita akan dikenai biaya parkir yang besarannya sama dengan parkir pada umumnya. Agar pengeluaran tidak bocor, bisa membawa jajanan atau makan berat ke sini sebab banyak pilihan jajanan yang menggiurkan.
Green Park
Taman ini memang tidak terletak di pusat kota, tetapi kalau hari libur pasti ramai. Berlokasi di ……., tempat ini dikelilingi oleh area persawahan membuat taman ini tampak lebih asri dan benar-benar mampu menyegarkan mata.
Di sini, terdapat beberapa wahana permainan untuk anak-anak, seperti perosotan, ayunan, dan mainan yang diputar-putar entah apa namanya. Terdapat gazebo dan juga kursi yang berbahan semen untuk orang tua yang sedang menunggu anaknya bermain. Terpenting lagi, di sini tidak terlalu banyak yang berjualan, jadi dompet lumayan aman.
Taman Sentul
Sesuai dengan namanya, taman ini terletak di Kelurahan Sentul. Dekat dengan makam dan perpustakaan Bung Karno. Untuk masuk ke taman ini kita harus masuk menyeberangi sungai. Tenang saja sudah ada jembatan yang bisa dilewati oleh sepeda motor.
Di taman ini hanya ada satu atau dua wahana bermain untuk anak-anak. Selebihnya taman dengan pepohonan dan rumput hijau membentang lumayan luas. Psstt … taman ini dekat dengan pemakaman umum, tapi tidak perlu khawatir karena taman ini diurus dengan baik, kok.
Alun-alun Kankab (Kantor Kabupaten)
Setelah beberapa tempat rekomendasi terletak di daerah kota, saatnya berpindah ke area kabupaten. Alun-alun ini berada di depan kantor kabupaten makanya disebut alun-alun kankab.
Di sebelah barat, berjajar sarana untuk berolah raga dan juga para penjaja minuman serta jajanan. Untuk yang di sebelah timur berdiri kokoh patung Bung Karno sebagai ikon Kabupaten Blitar.
Jika ingin mencoba berbagai jajanan, kalian bisa datang di hari Minggu. Dijamin bingung memilih jajanan yang mana dulu yang akan dicoba karena saking banyaknya.
RTH (Ruang Terbuka Hijau)
Setelah dari alun-alun Kankab, kalau anak-anak masih ingin bermain bisa juga diajak masuk ke RTH alias Ruang Terbuka Hijau. Di sana ada playground untuk anak-anak, ada kolam yang berisi ikan dan terdapat lingkaran-lingkaran tumpuan di tengah-tengahnya.
Sekarang di tempat ini sudah cukup banyak penjual makanan dan minuman sehingga jangan lupa mengantongi uang secukupnya, ya.
Jumat, 05 Juli 2024
Tips Membangun Kepercayaan Diri yang Wajib Dicoba
Bagi sebagian orang percaya diri itu mahal sampai-sampai sulit untuk dimiliki. Krisis kepercayaan diri itu dipicu oleh banyak hal, misalnya saja karena terlalu sering disalahkan, merasa tidak didengar dan tidak dihargai, mendapatkan label yang negatif dari orang sekitar, dan lain sebagainya.
Namun, ternyata tidak selamanya kepercayaan diri itu akan terus bersembunyi. Menurut pengalaman pribadiku, kita bisa melatihnya. Ya, pasti butuh waktu yang tidak singkat, tetapi kalau memang kita mau berusaha, bisa-bisa saja.
Lalu, bagaimana caranya?
Berikut beberapa tips untuk membangun kepercayaan diri ala aku
Kenali Diri
Poin ini adalah awal dari langkah untuk membangun kepercayaan diri kita. Mengenali diri punya makna yang mendalam sebenarnya. Bukan hanya tahu tentang hobi kita, makanan favorit, ataupun warna kesukaan.
Penting untuk kita mengetahui kelebihan dan keunikan diri agar tahu bahwa kita bukan butiran debu. Kita adalah berlian yang mungkin saat ini belum terlihat kilaunya karena masih perlu diasah.
Mengetahui kelemahan diri pun juga perlu, bukan untuk meratapi atau menjelekkan diri sendiri, tetapi sebagai pengingat agar tidak sombong.
Temukan juga apa yang membuat kita bahagia, apa yang membuat kita emosi, dan apa, sih aktivitas yang paling kita sukai.
Fokus pada Kelebihan
Setelah tahu apa kelebihan dan keunikan yang kita punyai, kita harus fokus pada hal ini. Tuhan menciptakan setiap manusia itu memiliki kelebihan masing-masing, maka kita harus menghargainya.
Dengan cara apa?
Ya, fokus saja mengembangkan kelebihan kita. Misalkan kelebihan kita adalah pandai merangkai kata, terus berlatih dan belajar menulis agar jam terbang semakin banyak.
Kalau kelebihan kita adalah senang berbicara, ya latihlah terus sampai kita menjadi ahli. Kalau sudah ahli, pasti akan percaya diri berbicara di depan umum.
Cari Lingkungan yang Positif
Lingkungan memang salah satu hal yang sangat berpengaruh dalam kehidupan kita. Ada sebuah hadits yang mengatakan bahwa ketika kita dekat dengan penjual minyak wangi, maka bau kita juga akan ikut wangi. Sebaliknya, jika kita berada bersama tukang pandai besi, maka kalau tidak hangus pakaian atau badan yang berbau.
Maka dari itu, mencari lingkungan yang baik dan positif adalah suatu hal yang amat penting. Lingkungan yang selalu memberikan dukungan dalam hal kebaikan ini akan mempengaruhi tingkat kepercayaan diri kita juga, loh.
Afirmasi Positif
Seberapa besar pengaruh afirmasi positif?
Kalau menurutku, sangat besar. Jika afirmasi positif itu kita ulang-ulang, maka pelan-pelan akan masuk dan menancap di alam bawah sadar kita sehingga secara tidak sadar itulah yang akan kita lakukan.
Misalnya, kita sedang tidak percaya diri karena merasa postur tubuh yang mungil. Maka cobalah memberi afirmasi sesering mungkin dengan kalimat, “aku mungil, aku tampak lebih muda daripada usiaku, dan aku tidak akan kesulitan untuk masuk mobil.”
Nah, coba rasakan bagaimana respon tubuh setelah afirmasi positif itu dilakukan.
Jangan Terlalu Mendengarkan Orang Lain
Untuk sebagian orang hal ini memang sulit, tetapi belajarlah untuk terkadang merasa bodo amat. Tidak usah semua yang dikatakan orang lain dimasukkan ke hati lalu menjadi beban pikiran kita sampai memengaruhi kepercayaan diri sendiri.
Kadang orang lain mengatakan sesuatu bukan melihat dari kacamata kita, tetapi dari sudut pandang mereka pribadi. Padahal ada banyak perbedaan diantara kita dan mereka. Jadi, berikan batasan kapan waktunya kita mendengarkan orang lain, kapan waktunya kita bersikap bodo amat.
Kuasai Bidang yang Kita Sukai
Beberapa waktu yang lalu aku mendengarkan kajian dari dr. Aisyah Dahlan. Beliau mengatakan bahwa kita sebenarnya punya beberapa bakat. Namun, bakat di urutan nomor 1 sampai 3 yang jika dilatih terus akan melejit di waktu yang tidak terlalu lama.
Jadi, itulah pentingnya kita mengenali diri dan mengetahui kelebihan kita. Supaya tahu apa bidang yang sesuai bakat kita, kemudian bisa belajar sampai menguasai bidang tersebut. Pada akhirnya potensi kita akan melejit sesuai dengan bakat yang kita miliki.
Jangan Membandingkan Diri Sendiri dengan Orang Lain
Yakinilah kita ini dilahirkan dengan segala perbedaan dan keunikan masing-masing. Jadi, tidak patut untuk dibandingkan dengan orang lain.
Bandingkanlah diri sendiri saat ini dengan beberapa waktu yang lalu saja. Tujuannya agar kita tahu seberapa berkembangnya kita atau adakah kemunduran dalam hal-hal tertentu yang kita alami.
Ingatlah bahwa rumput tetangga tidak selalu lebih hijau dibanding rumput kita sendiri.
Untuk kalian yang sedang berjuang untuk membangun kepercayaan diri, jangan ragu untuk mencoba tips ini. Semoga sukses.
Review Buku
Review Drakor Akhir Tahun 2023: Gyeongseong Creature Season 1
Review Drakor Akhir Tahun 2023: Gyeongseong Creature Season 1 Poster Drakor Gyeongseong Creature Sumber: google.com Cerita Singkat Gyeon...
-
Foto: bukuprogresif.com Judul: Cerita Calon Arang P enulis: Pramoedya Ananta Toer Penerbit: Lentera Dipantara H alaman: 94 Sinopsis Buku i...
-
Sumber: instagram @jumbofilm_id & canva Bukan hanya aku, anak-anak pun masih sangat terJumbo-Jumbo sampai satu minggu pasca menonton di...
-
Momen hari raya selalu disambut dengan riang gembira oleh semua muslim di dunia. Baik hari raya idul fitri maupun hari raya idul adha. Tua...



.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
